Senin, 21 Januari 2013

Pengalaman Pulang Kampung


Inilah sepenggal kisah unik dan menarik selama saya dan keluarga mengadakan perjalanan arus balik usai melakukan silaturahmi dalam rangka hari raya Idul fitri di kampung halaman istri tercinta,Desa krakal-kecamatan alian-kabupaten kebumen.

Dikota kecil inilah saya dan anak istri menghabiskan waktu liburan hampir dua minggu lamanya,dan didaerah terpencil inilah melahirkan sejuta kisah dan pengalaman hidupku yang tak akan luput dari ingatan memoriku untuk masa yang akan datang.  …lebbaay……..y

Ada yang unik dan menggelitik dari kisah kehidupan warga dikampung ini, namun ada juga yang membuat hati berdecak kagum menyaksikan kehidupan beragama dikampung ini-yang saat ini sangat sulit sekali kita temukan

Stasiun Kebumen, adalah stasiun yang terletak di daerah administrasi kota kebumen, stasiun ini berada diketinggian 45Meter diatas permukaan laut, informasi ini bisa kita ketahui pada plang besar bertuliskan stasiun KEBUMEN, begitupun halnya dengan stasiun2 lain di Indonesia,namun dengan kadar ketinggian yang berbeda-beda pula.
stasiun yang memiliki  lima jalur ini yang satu sudah tidak aktif lagi  merupakan stasiun tersibuk dikota kebumen,selain stasiun karanganyar yang terletak disebelah barat-nya, apalagi pada saat musim mudik ribuan penumpang tiba dan berangkat dari stasiun ini. Tak terkecuali saya beserta anak dan istri.

Disebelah barat stasiun ini terdapat pintu palang perlintasan kereta api yang cukup sibuk pula, bunyi sirene terdengar meraung-raung apabila kereta api hedak memasuki atau meninggalkan stasiun ini, untuk mengingatkan para pengguna jalan yang hendak melintas agar berhenti barang sejenak, karna sang ular besi mau lewat.
Seperti telah saya singgung sebelumnya, bahwa sebetulnya stasiun ini memiliki 5 jalur perlintasan /rel kereta api,namun satu jalurnya yaitu jalur 5 di nonaktifkan karna sudah tua dan tidak memenuhi syarat lagi untuk dipergunakan oleh kereta,baik untuk sekedar kereta langsir/parkir sekalipun.
Jalur satu, seperti yang sering saya amati adalah nerupakan jalur yang sering dipergunakan untuk Kereta api barang seperti KA batubara-KA pertamina dan kereta api cepat yang datang dari arah timur setelah melalui stasiun kutoarjo yang legendaries itu, dijalur ini tidak ada satupun kereta api yang direstui oleh PPKA (Pemimpin Perjalanan Kereta Api)untuk  berhenti, karna mungkin memang jalur ini dikhususkan hanya untuk kereta expres yang tak perlu berhenti distasiun kebumen ini yang notabene statusnya merupakan stasiun kecil dan atau ada kemungkinan lain yang hanya pejabat distasiun kebumen-lah yang tahu alasannya.
Panjang peron distasiun ini sangatlah tidak sesuai dengan panjang kereta api,kalau saya amati panjang peronnya hanya sampai pada gerbong 3 saja,sedangkan gerbong 4-8 Cuma hamparan batu kerikil yang cukup tajam.sehingga hal ini sangat memaksa para penumpang untuk melompat extra agar bisa turun dari kereta,atau menanjat dengan susah payah agar bisa naik dan tak ketinggalan kereta,sungguh keadaan yang sangat membahaakan bagi para penumpang,apalagi penumpang yang sudah lanjut usia atau cacat,boro-boro bisa naik kereta yang tinggi ,bawa badan aja susahna minta ampun,seloroh nenek tua yang sudah renta yang hendak naik ke gerbong 6 dari kereta api bengawan.
Saya tidak habis pikir, kok tega sekali yaa kepala stasiun ini dalam memperlakukan para penumpangnya, boro-boro ruang tunggu berkursi,Kursi sih ada,tapi pas lebaran aja,selesai itu raib deh entah kemana..? (celoteh si akang penjual Koran)
Peron tempat pijakan kaki untuk naik kereta/turun dari kereta aja tidak diperhatikan,huh nasiib-nasib.harap dimaklumi laah,,,(kata si tukang lanting yang ada di samping saya)lanting adalah makanan khas daerah kebumen dan sekitarnya,terbuat dari ubi yang diparut,rasanya renyah,gurih dan agak asam2 dikit…….jadi ngiler deh…

Melongok kesebelah selatan stasiun ini/sebelah kidul kalau orang bekasi bilang, kita disuguhkan pemandangan persawahan yang sejuk nan luas, tidak seperti halnya kebanyakan stasiun-stasiun yang ada di DAOPS 1 Jakarta,yang mana disebelah tiap sisinya terdapat bangunan yang merupakan satu kesatuan dari bangunan stasiun, stasiun yang berada dibawah kendali DAOP 5 purwokerto ini disebelah selatannya tampak polos dan hanya ada 1 bangunan rumah sinyal yang agak menjorok ke-arah barat, tanpa ada tembok dan pagar pembatas  sehingga cukup leluasa bagi penumpang2 gelap yang tidak bertiket untuk bisa masuk ke-area stasiun ini tanpa melalui petugas bording/ pintu masuk stasiun.
Diarea stasiun ini banyak sekali kita menjumpai para pedagang asongan yang parkir karna hendak menunggu kereta datang,tentunya bukan sembarangan kereta yang berhenti yang bisa mereka tumpangi serta menjajakan barang dagangan mereka, kereta yang mereka tunggu adalah kereta kelas ekonomi yang merakyat , kereta yang cukup banyak peminatnya,bahkan menjadi primadona belakangan ini,karna harganya yang cukup murah,  sesekali saya mengamati dari dekat ketika kereta Ekonomi Bengawan yang baru tiba distasiun ini pukul 19:45 menit (terlambat 10 menit dari jadwal yang tertera di papan pengumuman stasiun,tapi saya maklum karna malam itu hujan begitu banyak mengguyur kawasan pulau jawa, khususnya jawa tengah,apalagi kontur dan kondisi alam di jawa tengah kebanyakan berbukit-bukit,serta lembah-lembah yang curam dan pegunungan ang terjal  sehingga memaksa masinis, sang pengendali ular besi dan asistennya untuk mengurangi laju kereta yang tadinya 60km/jam menjadi 40 km/jam dst,karna alasan itulah di penghujung tahun ini banyak kereta yang sering terlambat datang )
 dari arah kutoarjo menuju stasiun Tanah abang Jakarta pusat, para pedagang asongan ini yang tadinya duduk berbaris rapi diemperan stasiun seketika berhamburan dan berdiri diperon dua, tempat KA bengawan berhenti, rupanya mereka satu persatu masuk diantara himpitan para penumpang yang hendak masuk pula, seperti tak kalah sigapnya petugas PPKA membunyikan peluit tanda semboyan 45 untuk memberhentikan Kereta api,dan seperti tak kalah sigapyna pula si bang unte sang tukang ojek dipangkalan BKKBN dalam menggaet penumpang,pun demikiannya dengan pedagang asongan ini, seperti sudah terorganisir rapi para pedagang ini masuk bukan hanya melalui satu pintu gerbong, akan tetapi mereka masuk melalui semua gerbong yang ada, dari mulai gerbong satu hingga gerbong 8, semua berlomba menjajakan dagangannya demi beberapa keeping rupiah.

Jarum jam telah menunjukan pukul 21:15 menit, namun si ular besi yang kami tunggu-tunggu belum juga kelihatan batang hidungnya-namun sekali lagi, saya bisa memaklumi karna ini musim penghujan-kereta yang kami tunggu adalah kereta Gaya Baru Malam Selatan tujuan Jakarta Kota.
Bel berbunyai keras di area PPKA, Ting nong-ting nong-ting nong…!   PPKA adalah Pemimpin perjalanan kereta api, dari sinilah ruang kendali perjalanan sebuah kereta api, tanpa ada restu dan perintah dari PPKA, kereta api tidak bisa sembarangan nyelonong maupun langsir/sekedar berhenti barang satu menitpun,karna hal itu bisa membahayakan perjalanan kereta api yang mereka pimpin.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar