Rabu, 23 Januari 2013
Senin, 21 Januari 2013
Pengalaman Pulang Kampung
Inilah sepenggal kisah unik dan menarik selama saya dan
keluarga mengadakan perjalanan arus balik usai melakukan silaturahmi dalam
rangka hari raya Idul fitri di kampung halaman istri tercinta,Desa
krakal-kecamatan alian-kabupaten kebumen.
Dikota kecil inilah saya dan anak istri menghabiskan waktu
liburan hampir dua minggu lamanya,dan didaerah terpencil inilah melahirkan
sejuta kisah dan pengalaman hidupku yang tak akan luput dari ingatan memoriku
untuk masa yang akan datang. …lebbaay……..y
Ada yang unik dan menggelitik dari kisah kehidupan warga
dikampung ini, namun ada juga yang membuat hati berdecak kagum menyaksikan
kehidupan beragama dikampung ini-yang saat ini sangat sulit sekali kita temukan
Stasiun Kebumen, adalah stasiun yang terletak di daerah administrasi
kota kebumen, stasiun ini berada diketinggian 45Meter diatas permukaan laut,
informasi ini bisa kita ketahui pada plang besar bertuliskan stasiun KEBUMEN,
begitupun halnya dengan stasiun2 lain di Indonesia,namun dengan kadar
ketinggian yang berbeda-beda pula.
stasiun yang memiliki
lima jalur ini yang satu sudah tidak aktif lagi merupakan stasiun tersibuk dikota kebumen,selain
stasiun karanganyar yang terletak disebelah barat-nya, apalagi pada saat musim
mudik ribuan penumpang tiba dan berangkat dari stasiun ini. Tak terkecuali saya
beserta anak dan istri.
Disebelah barat stasiun ini terdapat pintu palang
perlintasan kereta api yang cukup sibuk pula, bunyi sirene terdengar
meraung-raung apabila kereta api hedak memasuki atau meninggalkan stasiun ini,
untuk mengingatkan para pengguna jalan yang hendak melintas agar berhenti
barang sejenak, karna sang ular besi mau lewat.
Seperti telah saya singgung sebelumnya, bahwa sebetulnya
stasiun ini memiliki 5 jalur perlintasan /rel kereta api,namun satu jalurnya yaitu
jalur 5 di nonaktifkan karna sudah tua dan tidak memenuhi syarat lagi untuk
dipergunakan oleh kereta,baik untuk sekedar kereta langsir/parkir sekalipun.
Jalur satu, seperti yang sering saya amati adalah nerupakan
jalur yang sering dipergunakan untuk Kereta api barang seperti KA batubara-KA
pertamina dan kereta api cepat yang datang dari arah timur setelah melalui
stasiun kutoarjo yang legendaries itu, dijalur ini tidak ada satupun kereta api
yang direstui oleh PPKA (Pemimpin Perjalanan Kereta Api)untuk berhenti, karna mungkin memang jalur ini
dikhususkan hanya untuk kereta expres yang tak perlu berhenti distasiun kebumen
ini yang notabene statusnya merupakan stasiun kecil dan atau ada kemungkinan
lain yang hanya pejabat distasiun kebumen-lah yang tahu alasannya.
Panjang peron distasiun ini sangatlah tidak sesuai dengan
panjang kereta api,kalau saya amati panjang peronnya hanya sampai pada gerbong
3 saja,sedangkan gerbong 4-8 Cuma hamparan batu kerikil yang cukup
tajam.sehingga hal ini sangat memaksa para penumpang untuk melompat extra agar
bisa turun dari kereta,atau menanjat dengan susah payah agar bisa naik dan tak
ketinggalan kereta,sungguh keadaan yang sangat membahaakan bagi para
penumpang,apalagi penumpang yang sudah lanjut usia atau cacat,boro-boro bisa
naik kereta yang tinggi ,bawa badan aja susahna minta ampun,seloroh nenek tua
yang sudah renta yang hendak naik ke gerbong 6 dari kereta api bengawan.
Saya tidak habis pikir, kok tega sekali yaa kepala stasiun
ini dalam memperlakukan para penumpangnya, boro-boro ruang tunggu berkursi,Kursi sih ada,tapi pas lebaran aja,selesai itu raib deh entah
kemana..? (celoteh si akang penjual Koran)
Peron tempat pijakan kaki untuk naik kereta/turun dari
kereta aja tidak diperhatikan,huh nasiib-nasib.harap dimaklumi laah,,,(kata si tukang lanting yang ada di samping saya)lanting adalah
makanan khas daerah kebumen dan sekitarnya,terbuat dari ubi yang
diparut,rasanya renyah,gurih dan agak asam2 dikit…….jadi ngiler deh…
Melongok kesebelah selatan stasiun ini/sebelah kidul kalau
orang bekasi bilang, kita disuguhkan pemandangan persawahan yang
sejuk nan luas, tidak seperti halnya kebanyakan stasiun-stasiun yang ada di DAOPS
1 Jakarta,yang mana disebelah tiap sisinya terdapat bangunan yang merupakan
satu kesatuan dari bangunan stasiun, stasiun yang berada dibawah kendali DAOP 5
purwokerto ini disebelah selatannya tampak polos dan hanya ada 1 bangunan rumah
sinyal yang agak menjorok ke-arah barat, tanpa ada tembok dan pagar
pembatas sehingga cukup leluasa bagi
penumpang2 gelap yang tidak bertiket untuk bisa masuk ke-area stasiun ini tanpa
melalui petugas bording/ pintu masuk stasiun.
Diarea stasiun ini banyak sekali kita menjumpai para
pedagang asongan yang parkir karna
hendak menunggu kereta datang,tentunya bukan sembarangan kereta yang berhenti
yang bisa mereka tumpangi serta menjajakan barang dagangan mereka, kereta yang
mereka tunggu adalah kereta kelas ekonomi yang merakyat , kereta yang cukup
banyak peminatnya,bahkan menjadi primadona belakangan ini,karna harganya yang
cukup murah, sesekali saya mengamati
dari dekat ketika kereta Ekonomi Bengawan yang baru tiba distasiun ini pukul
19:45 menit (terlambat 10 menit dari jadwal yang tertera di papan
pengumuman stasiun,tapi saya maklum karna malam itu hujan begitu banyak
mengguyur kawasan pulau jawa, khususnya jawa tengah,apalagi kontur dan kondisi
alam di jawa tengah kebanyakan berbukit-bukit,serta lembah-lembah yang curam
dan pegunungan ang terjal sehingga
memaksa masinis, sang pengendali ular besi dan asistennya untuk mengurangi laju
kereta yang tadinya 60km/jam menjadi 40 km/jam dst,karna alasan itulah di
penghujung tahun ini banyak kereta yang sering terlambat datang )
dari arah kutoarjo menuju stasiun
Tanah abang Jakarta pusat, para pedagang asongan ini yang tadinya duduk
berbaris rapi diemperan stasiun seketika berhamburan dan berdiri diperon dua,
tempat KA bengawan berhenti, rupanya mereka satu persatu masuk diantara
himpitan para penumpang yang hendak masuk pula, seperti tak kalah sigapnya
petugas PPKA membunyikan peluit tanda semboyan 45 untuk memberhentikan Kereta
api,dan seperti tak kalah sigapyna pula si bang
unte sang tukang ojek
dipangkalan BKKBN dalam menggaet penumpang,pun demikiannya dengan pedagang
asongan ini, seperti sudah terorganisir rapi para pedagang ini masuk bukan
hanya melalui satu pintu gerbong, akan tetapi mereka masuk melalui semua
gerbong yang ada, dari mulai gerbong satu hingga gerbong 8, semua berlomba
menjajakan dagangannya demi beberapa keeping rupiah.
Jarum jam telah menunjukan pukul 21:15 menit, namun si ular
besi yang kami tunggu-tunggu belum juga kelihatan batang hidungnya-namun sekali
lagi, saya bisa memaklumi karna ini musim penghujan-kereta yang kami tunggu
adalah kereta Gaya Baru Malam Selatan tujuan Jakarta Kota.
Bel berbunyai keras di area PPKA, Ting nong-ting
nong-ting nong…! PPKA adalah Pemimpin perjalanan kereta api,
dari sinilah ruang kendali perjalanan sebuah kereta api, tanpa ada restu dan
perintah dari PPKA, kereta api tidak bisa sembarangan nyelonong maupun langsir/sekedar
berhenti barang satu menitpun,karna hal itu bisa membahayakan perjalanan kereta
api yang mereka pimpin.
Langganan:
Komentar (Atom)